Apakah Gen Z dengan Gaji UMR Masih Bisa Punya Rumah?

Apakah Gen Z dengan Gaji UMR Masih Bisa Punya Rumah?

2026-01-14 • edukasi-properti


Apakah Gen Z dengan Gaji UMR Masih Bisa Punya Rumah

Gen Z & Gaji UMR

Masih Bisa Punya Rumah?

Kondisi Nyata & Strategi Realistis Usia 23–29 Tahun

Kondisi Nyata yang Sering Dialami Gen Z

Gen Z usia 23–29 tahun menghadapi kenaikan harga tanah dan keterbatasan gaji UMR

Generasi Z (Gen Z) adalah kelompok yang lahir antara tahun 1997–2012. Saat ini, Gen Z berada pada rentang usia 14–29 tahun. Namun dalam konteks pembahasan rumah dan keuangan, fokus utama biasanya tertuju pada Gen Z usia produktif dan aktif bekerja, yakni sekitar 23–29 tahun.

Tantangannya, Gen Z memulai kehidupan kerja di situasi yang relatif tidak ramah. Harga tanah terus meningkat, biaya material bangunan ikut melonjak, sementara inflasi secara perlahan menggerus daya beli. Di sisi lain, kenaikan gaji UMR—termasuk di wilayah seperti Tegal dan Brebes—cenderung jauh lebih lambat dibandingkan laju biaya hidup.

Di titik inilah pertanyaan wajar muncul: apakah Gen Z dengan gaji UMR masih mungkin memiliki rumah sendiri?
Jawabannya: masih mungkin, namun jalur yang ditempuh harus realistis, terukur, dan disesuaikan dengan kondisi finansial masing-masing.

Berikut beberapa kondisi nyata yang dihadapi Generasi Z saat ini ketika mulai memikirkan kepemilikan rumah:


1. Tanah Sudah Ada dari Warisan

Lahan warisan keluarga yang dapat dimanfaatkan Gen Z untuk membangun rumah pertama

Pada kondisi ini, Gen Z memiliki privilege karena tidak perlu lagi memikirkan pembelian tanah. Beban biaya terbesar telah terlewati dan risiko inflasi harga tanah menjadi lebih kecil. Fokus selanjutnya adalah mengatur waktu serta tahapan pembangunan. Bahkan, dalam posisi ini Gen Z memiliki fleksibilitas untuk menjual tanah tersebut dan membeli rumah secara cash di perumahan, atau membangun langsung di atas tanah yang dimiliki sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.


2. Tidak Ada Warisan Sama Sekali (Mulai dari Nol)

Ilustrasi Genz tidak memiliki warisan

Kondisi ini sering kali menjadi dilema, di mana seseorang harus memikirkan kebutuhan keluarga sekaligus masa depan tempat tinggal. Di satu sisi, ia harus berjuang menabung di tengah keterbatasan penghasilan. Di sisi lain, ia terus bergelut dengan pikirannya sendiri—apakah bertahan menabung lebih lama, mengambil kredit bank untuk membeli tanah, atau bahkan mengambil KPR sebagai jalan cepat meski dengan risiko cicilan jangka panjang.


3. Belum Menikah

Gen Z lajang usia kerja aktif dengan pengeluaran fleksibel dan peluang menabung lebih besar

Meski belum menikah, kondisi Gen Z di era ini tetap tidak mudah. Harga aset terus naik dari waktu ke waktu, sementara tekanan sosial masih menjadikan status dan pencapaian sebagai tolok ukur utama bagi Gen Z lajang. Di tengah tuntutan gaya hidup dan ekspektasi lingkungan, fase ini justru menjadi tantangan tersendiri untuk mulai membangun pondasi aset jangka panjang.


4. Sudah Menikah, Penghasilan Masih UMR

Pasangan muda Gen Z dengan penghasilan UMR mengatur keuangan keluarga

Pada fase ini, tantangan semakin nyata. Ketika sudah menikah namun penghasilan masih di level UMR, ruang finansial menjadi jauh lebih sempit. Pengeluaran tidak lagi bersifat personal, melainkan harus berbagi untuk kebutuhan pasangan dan rumah tangga. Kenaikan harga tanah dan rumah terus berjalan, sementara kemampuan menabung semakin terbatas, membuat setiap keputusan—menabung, menyewa, atau mengambil KPR—menjadi penuh pertimbangan dan risiko.


Strategi Realistis Gen Z Bergaji UMR Punya Rumah

Setiap Gen Z berada pada kondisi yang berbeda—ada yang masih lajang dan bergelut dengan tekanan status sosial, ada yang sudah menikah dengan penghasilan UMR, ada pula yang berada di persimpangan antara menabung, membeli tanah, atau mengambil KPR. Di semua fase ini, tantangannya sama: harga aset terus naik sementara kemampuan finansial terbatas. Namun, bahkan dalam kondisi paling krusial sekalipun, semuanya masih bisa dihadapi dengan strategi yang realistis, perencanaan bertahap, dan keputusan yang sadar risiko. Tujuannya bukan sekadar punya rumah, tapi membangun aset tanpa menghancurkan stabilitas hidup.


Strategi 1 — Membeli Perumahan (KPR Subsidi / Rumah Murah)

Contoh rumah subsidi sederhana yang terjangkau bagi Gen Z bergaji UMR

Membeli rumah di perumahan sering terlihat sebagai jalan paling masuk akal. Rumah sudah tersedia, bisa langsung ditempati, dan tidak perlu menunggu bertahun-tahun seperti menabung bangun sendiri.

  • Harga rumah: Rp160–170 juta
  • DP: Rp5–10 juta
  • Cicilan: Rp1–1,2 juta per bulan
  • Tenor: 15–20 tahun

Namun perlu disadari, cicilan KPR berarti komitmen jangka panjang. Sekitar 30–40% gaji akan terkunci setiap bulan. Jika memilih perumahan—terutama di wilayah seperti Brebes—penting memperhatikan reputasi pengembang, kualitas bangunan, serta perkembangan lingkungannya. Dalam hal ini, beberapa perumahan yang kerap direkomendasikan karena perencanaan dan konsep kawasannya antara lain:
-Askara Harita Spesial Edition
-Limbad 212 Residence
yang dinilai menawarkan lingkungan hunian lebih tertata serta potensi nilai jangka panjang.


Strategi 2 — Bangun Sendiri Bertahap

Strategi ini paling ideal untuk Gen Z yang belum menikah dan mulai bekerja di usia sekitar 23 tahun. Alih-alih menargetkan rumah di usia 25, pendekatan yang lebih realistis adalah menjadikannya sebagai proyek jangka menengah menuju usia awal 30-an, dengan perencanaan bertahap dan terukur.


Rentang Usia Fokus Utama Strategi Hunian
23–30 tahun Stabilitas karier & menabung Menyusun target anggaran, menyiapkan dana awal, dan mulai menghitung kebutuhan rumah secara realistis
30–33 tahun Eksekusi rumah inti Membangun atau membeli rumah inti yang fungsional, sesuai kemampuan finansial
35 tahun ke atas Peningkatan kualitas hunian Pengembangan rumah agar lebih nyaman dan layak huni untuk jangka panjang

Untuk rumah kecil atau rumah inti, estimasi biaya jasa perencanaan dan desain umumnya berada di kisaran Rp2 juta untuk paket tertentu. Nilai ini relatif kecil jika dibandingkan dengan potensi biaya renovasi atau bongkar ulang akibat pembangunan tanpa acuan desain yang jelas.
Informasi terkait perencanaan rumah inti dan estimasi biaya desain juga dapat ditemukan melalui NunaProject.com , yang menyediakan layanan desain rumah dengan pendekatan terencana dan biaya yang tetap realistis.


Strategi 3 — Tinggal Bareng Orang Tua / Mertua

Gen Z tinggal bersama orang tua untuk menekan biaya hidup dan menabung rumah

Secara finansial, strategi ini tergolong paling rasional. Dengan pengeluaran sekitar Rp1,7 juta per bulan, masih tersedia ruang menabung sekitar Rp600 ribu–1 juta per bulan. Dana tersebut dapat diarahkan terlebih dahulu untuk pembelian tanah, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan rumah tumbuh secara bertahap. Durasi ideal perencanaan ini berada di rentang 3–5 tahun. Pendekatan ini juga lebih fleksibel ketika kebutuhan keluarga bertambah, termasuk saat sudah memiliki anak, karena rumah dapat dikembangkan menyesuaikan kondisi finansial dan kebutuhan ruang.


Strategi 4 — Menambah Penghasilan

Gen Z menjalankan side hustle untuk mempercepat target memiliki rumah

Side hustle bukan sekadar gaya hidup, melainkan alat bertahan. Tambahan sekitar Rp1 juta per bulan dari pekerjaan sampingan dapat memangkas target kepemilikan rumah dari 10 tahun menjadi sekitar 5–6 tahun. Beberapa jenis side job yang relatif realistis untuk Gen Z antara lain:

  • Freelance digital: desain grafis, penulisan konten, editing video, atau pengelolaan media sosial.
  • Jasa berbasis keahlian: drafter CAD, rendering 3D sederhana, admin marketplace, atau data entry.
  • Pekerjaan online fleksibel: virtual assistant, customer support chat, atau microtask.
  • Usaha skala kecil: reseller produk online, print-on-demand, atau jasa titip (jastip).
  • Skill teknis lapangan: servis ringan, instalasi, atau pekerjaan proyek kecil berbasis harian.
  • Freelance marketing Nuna Project: opsi paling sederhana adalah menjadi freelance marketing untuk proyek desain atau properti. Skema ini biasanya berbasis komisi, sehingga fleksibel dan tidak mengganggu pekerjaan utama. Sebagai gambaran, potensi pendapatan berada di kisaran Rp300 ribu hingga Rp2 juta per proyek, tergantung nilai pekerjaan yang berhasil direferensikan.

Kuncinya bukan besarnya penghasilan tambahan, tetapi konsistensi. Pendapatan sampingan yang stabil, meski tidak besar, dapat mempercepat pencapaian target rumah jika dikelola secara disiplin.


Kesimpulan


Gen Z memang memulai dari posisi yang tidak mudah. Generasi orang tua kita hidup di masa ketika harga tanah dan rumah masih relatif murah, bahkan sebagian mendapatkan aset dari warisan. Sementara itu, ada pula Gen Z yang sejak awal sudah berada di kondisi finansial yang mapan. Namun bagi mayoritas, titik awal setiap orang memang berbeda.

Karena itu, yang terpenting bukan membandingkan diri dengan generasi sebelumnya atau dengan mereka yang lebih beruntung, melainkan memahami fase usia, kondisi finansial, dan memilih jalur yang realistis. Bagi Gen Z usia 23–29 tahun, rumah pertama bukan soal dicapai secepat mungkin, tetapi disiapkan dengan tepat sebagai proyek menuju usia 30-an—agar prosesnya tetap terukur, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan hidup ke depan.

Mau income tambahan dari Nuna Project?

Nuna Project membuka peluang freelance berbasis komisi. Cukup mereferensikan klien yang membutuhkan jasa desain rumah, tanpa harus terlibat proses teknis. Komisi per proyek berkisar Rp300 ribu–Rp2 juta, fleksibel dan cocok sebagai penghasilan tambahan.


Info Freelance Teman / Keluarga Mau Desain Rumah